Jumaat, 28 Mac 2008

DAKWAH JAMAAH TABLIGH


DAKWAH JAMAAH TABLIGH
~TRACING THE PROPHETS FOOTSTEPS~AMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR~

Dakwah merupakan kerja yang memiliki kontinuitas tinggi, sebagaimana yang di contohkan Nabi Muhammad saw. Disebut sebagai kerja karena pada prinsipnya dakwah haruslah memiliki konsekuensi yang didasarkan atas rencana yang cermat dan tertata rapi. Nabi Muhammad dan para sahabat telah menggunakan seluruh waktu hidupnya untuk kerja dakwah. Hal ini disebabkan beliau diutus untuk membawa risalah bagi umat manusia. Konsekuensi logis dari kerja Nabi Muhammad saw adalah eksistensi umat Islam yang dalam perjalanan sejarahnya menjelajah dunia dengan peradaban, ilmu pengetahuan dan kebudayaannya. Kejayaan Islam pada masa lalu adalah bukti kuatnya bangunan Islam yang dibangun oleh Nabi Muahmmad saw dan para sahabat yang benar-benar memiliki kekuatan spiritual yang tinggi.

Maulana Muhammad Ilyas menghayati kerisauan Nabi Muhammad dengan usahanya memperbaiki kesalahpahaman tentang tanggung jawab dakwah dan pentingnya amal agama untuk mengembalikan kejayaan umat Islam. Refleksi dari pemikiran Maulana adalah usaha dakwah yang dibangun dengan segala kemampuan yang dimilikinya dan hingga saat ini dapat dilihat perkembangannya. Perkembangan dakwah jama'ah ini semakin menampakkan kekuasaan Allah atas segala sesuatu. Allah sanggup menampakkan kebesaran dan sanggup pula menghancurkan usaha ini.

Sebagai gerakan dakwah internasional aktivitas dakwah gerakan ini sudah menjangkau hampir ke seluruh dunia. Pengikut terbesar terdapat di India, Pakistan dan Bangladesh. Sejak awal 1980-an, gerakan ini melakukan dakwah ke wilayah Timur Tengah (Makkah dan Madinah), ASEAN, Eropa, Australia, bahkan sampai Amerika Latin[1]. Begitu pula halnya dengan Indonesia yang saat ini banyak memiliki markas-markas jama'ah untuk menghidupkan kerja dakwah. Lebih kurang di dua ratus negara telah hidup amal jama'ah dakwah yang secara terus menerus bergerak ke seluruh dunia.

Dinamisasi gerakan dakwah jama'ah makin bertambah besar, setiap hari rombongan-rombongan dikirim ke seluruh penjuru benua untuk berdakwah menyampaikan kebesaran Allah dan mendakwahkan Din Al-Islam. Penamaan Jama' ah Tabligh pada dasaranya bukan berasal dari kalangan jama'ah, dan tidak pernah pula mengklaim diri sebagai Jama'ah Tabligh. Terminologi tersebut muncul dari kalangan masyarakat umum yang belum mengenal kerja dakwah ini. Tabligh adalah salah satu sifat Nabi Muhammad saw yang bertugas menyeru kepada umat manusia. Ketika saat ini Nabi Muhammad telah meninggalkan umatnya, maka tugas ini jatuh ke tangan umat yang mengaku sebagai pengikut Nabi Muhammad saw[2].

Disamping itu pula yang menyebut jama'ah ini sebagai jama'ah Khuruj (jama' ah yang berdakwah keluar). Hal ini dikarenakan salah satu dari tertib dakwah adalah Khuruj fi Sabilillah (keluar di jalan Allah) untuk sedikit bermujahadah (bersungguh-sungguh berkorban) untuk agama dengan tuhuan Ishlah diri (memperbaiki diri) dengan jalan hijrah dan mengajak orang pada jalan kebaikan. Apapun nama yang diberikan, tidak akan mengurangi kewajiban masing-masing individu muslim untuk berdakwah, mengambil usaha Nabi Muhammad saw dan menjaganya.

Perkembangan kerja dakwah ini dimulai di India pada tahun 1920-an sebagai bentuk kerisauan yang mendalam Maulana Muhammad Ilyas terhadap kondisi umat yang dilihatnya saat itu, terutama masyarakat Mewat yang jauh dari amal agama bahkan telah jauh melanggar perintah agama. Keinginan untuk berdakwah bertambah dalam dirinya. Kemudian dibentuklah jama'ah-jama'ah bergerak dengan tujuan menggerakkan orang-orang Mewat ke luar dari kampung halamannya untuk kembali mengenal agamanya dengan mempraktekkan cara hidup yang Islami. Kerja yang baik adalah kerja yang berdasarkan asas agama dan musyawarah, dengan kata lain kerja tersebut terorganisir dengan baik. Begitu pula halnya dengan dakwah, sebagai salah satu perintah agama dan salah satu sunnah Nabi yang terbesar, memerlukan tatanan dan tertib yang teratur. Atas dasar inilah musyawarah dijadikan landasan kerja dakwah jama' ah.

Tertib kerja dakwah ini mengenal hirarki (garis kerja jama'ah) yang tidak disamakan dengan organisasi pada umumnya. Kerja dakwah inipun tidak dapat disebut sebagai organisasi, karena ini adalah kerja agama yang seluruhnya bersandar kepada Allah SWT. Tidak terdapat aturan-aturan legal formal yang mengikat selain daripada musyawarah. Setiap individu memiliki kedudukan dan tanggung jawab yang sama terhadap jama'ah, terlebih lagi terhadap umat seluruh alam. Setiap individu menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri, sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw: "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya" (Kitab Shohih Muslim, hadits ke 1792)

Dalam kerja dakwah jama'ah dikenal adanya istilah ke-markaz-an, istilah yang diambil dari bahasa arab Markazun yang berarti pusat (tempat berkumpul). Terdapat beberapa kedudukan markaz sesuai dengan jangkauan wilayah dakwah yang telah disepekati bersama. Ada markaz internasional yang berkedudukan di Basti Nizamuddin, India. Markaz ini adalah pusat kegiatan dakwah internasional, tempat pertemuan (ijtima') dan musyawarah dunia, sekaligus sebagai sentral yang mengarahkan kerja dakwah seluruh dunia. Terdapat tokoh yang dihormati yang disebut sebagai Hadraji (orang yang di hormati). Hingga saat ini dikenal adanya beberapa Hadraji di antaranya: Maulana Muhammad Ilyas, Maulana Muhammad Yusuf, Maulana Inamul Hasan. Saat ini markaz international dipimpin oleh Majelis Syuro yang terus memantau kerja dakwah seluruh dunia.

Di tingkat berikutnya ada istilah Zumidar (penangung jawab) dan Majelis Syuro (Majelis Musyawarah) yang berkedudukan di masing-masing negara. Zumidar dan Majelis Syuro memegang peran penting dalam keputusan-keputusan berkaitan dengan jama'ah di tingkat nasional. Di Indonesia terdapat Zumidar dan Majelis Syuro Indonesia yang berkedudukan di Masjid Jami' Kebon Jeruk Jakarta. Disinilah tempat diselenggarakannya musyawarah dan Ijtima' Indonesia untuk membentuk kesatuan hati dan gerak kerja jama'ah di seluruh Indonesia. Di tingkat berikutnya terdapat Zumidar dan Majelis Syuro tingkat propinsi yang berkedudukan di masing-masing markaz propinsi yang telah ditunjuk disepakati. Misalnya, Zumidar dan Majelis Syuro Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Irian Jaya, Daerah Istimewa Yogyakarta dan seluruh daerah lainnya di Indonesia yang masing-masing telah memiliki markaz. Di tingkat berikutnya terdapat Zumidar dan Majelis Syuro setingkat kabupaten atau berdasarkan pembagian wilayah masing-masing atas dasar musyawarah. Wilayah yang telah disepekati bahkan dapat menembus batas-batas wilayah administratif yang legal dan formal seperti kabupaten atau kecamatan. Wilayah ini disebut dengan nama Halaqoh (Kumpulan)[3]. Di masing-masing propinsi terdapat beberapa Halaqoh berdasarkan pembagian wilayah yang disepakati musyawarah. Di Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat sepuluh Halaqoh yang membawahi beberapa masjid di wilayah kerjanya masing-masing. Markaz DIY atau Yogyakarta berkedudukan di masjid Al-Ittihad Karangwuni Yogyakarta. Seluruh sistem kerja Jama'ah tidak terkait dengan aturan-aturan legal formal, semuanya berlandaskan atas musyawarah untuk mufakat.

Berikutnya adalah wilayah yang disebut sebagai Mahalla (Tempat/Masjid) yang di dalamnya terdapat Karkun yang senantiasa menghidupkan amal Maqomi. Dalam satu Halaqoh terdapat puluhan Mahalla, yang secara rutin mengadakan musyawarah Halaqoh mingguan guna menata kerja dakwah Halaqoh. Keterkaitan antara Karkun hingga markaz Internasional dihubungkan oleh Musyawarah serta para syuro yang terus menerus menyisihkan tenaga dan pikirannya untuk kerja dakwah agar jama'ah dapat di keluarkan sebanyak-banyaknya ke seluruh dunia.
Bagian yang terkecil dari dakwah jama'ah adalah Karkun (ahli dakwah/individu yang ikut dalam tertib kerja dakwah jama'ah). Individu yang ikut dalam tertib dakwah ini belajar untuk meluangkan waktu, mengorbankan sedikit harta, dan bahkan dirinya untuk keluar di jalan Allah, berdakwah mengajak orang taat kepada Allah. Karena secara realita saat ini banyak sekali di antara saudara-saudara muslim yang masih belum mengenal syrai'at, atau sesungguhnya mereka mengenal akan tetapi belum dapat bahkan tidak mau melaksanakannya. Maka menjadi kewajiban setiap muslim untuk saling mengingatkan, saling menasehati, bersilaturrahim saling mengunjungi agar hidup amal agama sesuai dengan cita-cita Nabi Muhammad saw.

Kerja dakwah ini berkembang disebabkan secara lahiriyah masing-masing individu yang sadar akan kondisi dirinya turut meluangkan waktu, mempersiapkan diri dan hartanya untuk keluar di jalan Allah guna memperbaiki diri dan berupaya mengajak sudara-saudara muslim yang lain untuk memperbaiki diri lebih baik lagi. Karena saat ini, kondisi umat sudah sangat jauh dari moralitas agama yang sebenarnya sebagaimana banyak ditulis dan dirisaukan para alim ulama. Tidak ada sedikitpun paksaan dalam kerja dakwah ini, karena pada prinsipnya setiap umat Islam mempunyai kewajiban dakwah yang sama, akan tetapi sangat sedikit yang mampu malakukannya dengan sungguh-sungguh.

Kerja dakwah ini tidak berupaya untuk mencari pengikut sebanyak-banyaknya, akan tetapi mengingatkan akan pentingnya dakwah dengan mengkondisikan diri dalam suasana agama serta kerelaan berkorban untuk agama. Siapa saja yang mau meluangkan waktu untuk memperbaiki dirinya dan merisuakan keadaan umat Islam berarti turut membantu usaha dakwah Nabi. Begitu pula sebaliknya jika tidak atau belum dapat meluangkan waktunya untuk agama maka itu semua akan kembali pada dirinya.

Hingga saat ini target-target kerja dakwah untuk Markaz, Halaqoh dan Mahalla seluruh dunia terus ditingkatkan yaitu agar jama'ah terus dikeluarkan semakin hari semakin bertambah. tawaran terus dibentangkan agar setiap orang mampu mengambil usaha dakwah ini sebagai maksud dan tujuan hidup. Instruksi dan target musayawarah internasional akan disampaikan melalui musyawarah ke negara-negara di dunia, dan melalui musyawarah pula akan disampaikan ke Halaqoh dan Mahalla diseluruh dunia. Jika target-target dan anjuran dari Masyaikh sebagai zumidar kerja dakwah dapat diikuti maka pembentukan khilafah akan dapat diwujudkan dan target kerja dakwah jama'ah akan dapat dicapai.

Kerja dakwah saat ini telah ada di seluruh daratan dan negara-negara di dunia. Suatu perkembangan yang luar biasa dalam kurun waktu lebih kurang tujuh puluh tahun lamanya sejak dimulainya kerja dakwah ini. Akan tetapi tentu akan lebih baik lagi jika seluruh umat Islam yang mengaku sebagai umat Nabi Muhammad saw mengerti dan memahami arti pentingnya dakwah bagi kesempurnaan amal agama dan kemuliaan umat serta keselamatan hidup di dunia dan akhirat. wassalam


--------- Footnote :
[1]H. A Hafidzh Dasuki, (et. al.), (1993), Ensiklopedi Islam, Vol-S1-1, Jaklarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, hlm. 266[2]Hasil Muzakaroh dengan Muhammad Azhari salah seorang jama'ah Malaysia (Mahasiswa UTM Johor ) pada tanggal 28 April 2001, pkl. 16.30, di Masjid Al-Muttaqin, Karang malang.[3] lihat., Ahmad Warson Munawir,(1984), Kamus Al-Munawir, Yogyakarta: Ponpes Al-Munawir Krapyak, , hlm. 314


Related Posts with Thumbnails